Rabu, 22 Februari 2017

Telaten Jadi Guru Ngaji


PENGALAMAN menjadi santri akna sisa-sia jika tidak diamalkan. Meskipun satu ayat, ingin rasanya selalu diamalkan. Hal itulah yang menginspirasi Muhammad Bahrudin. Dia begitu telaten menjadi guru ngaji bagi anak-anak di lingkungannya.

Awalnya Dua Santri, Sekarang Sudah Puluhan


Muhammad Bahrudin merupakan soosk laki-laki muda yang tidak merasa canggung untuk mengajar ngaji di tempat tinggalnya Desa Sumber Jati Kecamatan Tempeh. Menjadi guru ngaji menurutnya ingin sekali diwujudkan semenjak di pesantren. "Saat jadi santri, sering ngajari adek-adek ngaji," katanya.
Akibatnya, kebiasaan mengajar ngaji terus dibawanya meski saat ini dia sudahduduk di bangku kuliah. Menurutnya, mengamalkan ilmu itu tidak terbatas oleh waktu. "Meski saat ini sudah disibukkan dengan kuliah, tapi mengamalkan ilmu merupakan kewajiban," terangnya.
Dia mengajar di musholla milik keluarganya. Itu dilakoni sejak dirinya lulus dari pesantren. Berawal dari melihat mushalla yang belum optimal karena hanya digunakn sholat saja. "Eman jika mushalla yang sudah ada tidak dimanfaatkan maksimal," akunya.
Sejak itu, dia bermusyawarah dengan keluarga untuk menjadikan mushalla sebagai tempat belajar ngaji anak-anak sekitar. "Alhamdulillah, keluarga memperbolehkan, syaratnya ketika sudah berjalan, anak-anak tidak boleh ditinggal," terangnya.
Dengan persyaratan itu membuat tekad dan semangatnya bangkit. Selang beberapa hari, dia memulai dengan semangat menggebu-gebu. Kemudian datanglah anak-anak dari tetangganya untuk belajar mengaji. Dimulailah pengajian itu dengan dua orang anak saja yang sekaligus menjadi santri pertama. "Waktu itu hanya dua. Itupun anaknya saudara-saudra sendiri," jelasnya.
Antusias yang minim itu tak membuat semangatnya ciut. Justru lebih membara. "Sekitar enam bulan, saya ngopeni dua anak itu," ujar laki-laki kelahiran 1 Januari 1997 ini. Ketelatenanya mengajar ngaji menghasilkan kepercayaan dari masyarakat. akhirnya, satu demi satu banyak orang tua yang memasrahkan anaknya untuk belajar ngaji.
Saat ini , sudah sekitar 25 lebih santri laki-laki dan perempuanyang belajar padanya. Pola pengajaran yg dilakukan pun tidak sama seperti guru ngaji seperti biasanya. Dia melakukan pendekatan pada santrinya agar tertarik untuk belajar al-qur'an. "Sering tak ajak bercanda, biar santri tidak bosan," terangnya.
Karena tidak jarang banyak siswa atau santri yang menyukai salah satu pelajaran dikarenakan suka dengan cara mengejarnya. "Jika sistem yg seperti itu dijalankan kepada anak-anak yg belajar ngaji, tetntunya hasilnya akan maksimal," jelasnya.
Selain mengajar ngaji, Bahrudin mengaku masih ingin mengembangkan mushallanya menjadi wadah pendidikan agama. Sperti TPQ dan Sekolah Diniah. Hal itu menjadi targetnya agar ilmu yg selama ini dia dapatkan di pesantren dapat bermanfaaat bagi lingkungan sekitar. "Hanya pengabdian yang bisa diberikan untuk masyarakat. Untuk seterusnya biar masyarakat yg menilai," pungkasnya.
(mar/fid)




Sumber : Jawa Pos - Radar Semeru, 17 Juni 2016
Ditulis kembali oleh : nbl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar