Suporter Minim Namun Unggul Dalam Materi
HUMOR membuat Avdul Aziz mengarahkan hidupnya untuk hal-hal yang berkaitan dengan talentanya. Mulai dari mendalami seni kentrung hingga ikut dalam lombA stand up comedy. Tahun ini, dia kembali mendapat penghargaan dalam lomba stand up comedy kependudukan Jatim 2016.SHOLIKHUL HUDA
RABU kemarin menjadi menjadi momen bahagia bagi Abdu Aziz. VSebab dia undang secara khusus oleh BKKBN Jatim untuk menerima tropi di Alun-alu Lamongan. Hal itu Karena dia terpilih menjadi pemenang dalam lomba Stand Up Comedy Kependudukan Jatim 2016. Dia terpilih menjadi juara III tingkat Jawa Timur.
Tropi itu diterima Aziz dalam acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXII. Aziz berangkat dari Bondowoso. Dia bersama tim PIK KRR Sukosari yang juga pilih menjadi pemenang juara III tingkat provinsi. "Kalau lombanya sudah Mei lalu di UIN Sunan Ampel Surabaya, di Alun-alun Lamongan ini adalah penyerahan hadiahnya," jelas pria asal desa Curahpoh, Curahdami tersebut.
Lomba itu berawal beberapa bulan sebeumnya. Saat tim BKKBN provinsi mengadakan lomba stand up comedy kependudukan Jatim 2016.
Bangga Bisa Bawa Nama Bondowoso
Saat itu, tim BKKBN Bondowoso menerjunkan enam orang yang salah satunya dirinya. Sebelum berengkat ke Surabaya, seluruh peserta diminta untuk membuat video stand up. Temannya tentang kependudukan. "Enam Orang yang ditunjuk itu membuat video masing-masing," jelasnya .
Aziz merasa mudah membuat video itu sebab dirinya selama ini memang sudah bergelut di kesenian kentrung. Kesenian yang dikembangkan oleh Grup Apresiasi Seni (GS) Bondowoso ini adalah kesenian tentang humor. Isinya adalah pleggiran atau pantun. "Dan berbicara stand up comedy, bukan nhal baru bagi saya," tutur pria kelahiran 17 juni 1988 ini.
Rupanya, dari enam orang itu, Aziz satu-satunya pemuda Bondowoso yang terpilih. Dia Masuk 10 besar bersama perwakilan/kota se Jawa Timur. Akhirnya pada 17 Mei lalu, dia berangkat ke UIN Sunan Ampel surabaya untuk berlomba merebutkan juara
.
Tentunya Aziz mempersiapkan diri dengan matang. Dia memperkaya materi yang ada. BErbagai reverensi dicarinya sehingga menjadi bahasa menarik di panggung. Tentunya masuk sepuluh besar, menjdi tantangan yang berat," Dalam hati saya, semoga bisa'membawa nama Bondowoso," tuturnya.
Awalnya dia sangat minder. Sebab para perwakilan daerah lainnya, membawa supporter. Hanya dirinya yang supporternya sangat minim sehingga saat naik panggung, semangat dari para penonton sangat sedikit. Namun akhirnya dia bersukur karena dewan juri memberikan penilaian bagus. Sebenarnya, kalau masalah materi, dirinya yakin tidak kalah dengan Surabaya dan Trenggalek yang menjadi juara dan runner-up.
Namun, pria yang aktif di organisasi Ikatan Pelajar Nadlahtul Ulama Cabang Bondowoso ini tidak patah arang. Dengan hasil itu dia masih nisa membawa nama Nondowoso di kancah provinsi.
Perlu diketahui, penjajangan Aziz dalam dunia humor, sejak 2006 lalu. Tetapnya saat dirinya duduk di bangku MAN Bondowoso. Karena diajak oleh para pegiat seni, Aziz bergabung dengan GAS Bondowoso. Disitu bakat humornya di tempa.
Dia bersama teman-teman lantas mengembangkan seni kentrung. Banyak pantun diciptakan. Tidak jarang grup seni ini, diminta untuk mengisi acara-acara pemerintah. Hal itu karena haluannya yang memegang budaya lokal Bondowoso. "Seni kentrung ini budaya asli yang mengedepankan seni humor, karena dasar saya suka humor, saya tidak kesulitan," akunya.
Selanjutnya pada 2013 lalu, dia melebarkan sayap untuk mempelajari stand up comedy. Karena dasar dua kesenian ini adalah humor, membuat Aziz mudah memunculkan ide-ide kreatifnya. Kebetulan pada 2013 itu, dia juga ikut lomba stand up comedy BKKBN Jatim dan menjadi juara 1. Selain diajak BKKBN, Aziz juga berprestasi ditingkat Karesiden Besuki pada acara hari AIDS. "Saya juara di njemer," ungkap pria yang setiap harinya menjadi ketua TU di Yayasan Nurul Ma'rifah Poncogati, Curahdami ini.
Baginya, seni adalah salah satu hobi yang asyik. Apalagi bisa membuat bahagia orang lain. Hal itu sesuai dengan prinsip hidupnya, yakni sebaik-baik manusia lainnya. Semampang kegiatan itu bermanfaat, maka dinilai sebagi suatu ibadah," pungkasnya. (wah)
Sumber : Jawa Pos Radar Ijen 23 Juli 2016
Ditulis Kembali Oleh : (IS)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar