Kamis, 02 Februari 2017

Kurma, Kumpulan Anak Muda Yang Berbagai Untuk Semua

Berawal Dari Kumpul-Kumpul Mahasiswa yang Kuliah di Luar Kota

Kurma, namanya begitu familiar saat berbuka puasa tiba. Namun bagi pemuda Bondowoso, kurma bukan sekedar buah, tapi singkatan Syukur Ramadhan untuk Sesama. Yakni kumpulan anak muda Boondowoso yang kuliah diluar kota untuk berbagai kepada sesama.


WAWAN DWI SISWANTO

PASEBAN Alun-alun Ki Bagus Asra sore itu menjadi pusat kerumunah anak-anak muda di Bondowoso. Ada dance, parkour ada pula yang membagikan takjil. Diantara remaja yang
menghabiskan waktu sorenya menunggu berbuka puasa, hanya segelitir saja bukan anak muda.

Mereka adalah orang-orang yang mengenalkan kemeja hitam-hitam dan logo  huruf K, yang artinya Kurma Foundation. Tak sedikit banyak orang yang tanya apa itu kurma. Apa mereka penjual kurma atau mereka membagikan kurma gratis. Mereka pun tersenyum jika ditanya demikian oleh orang yang melintas. Mereka pun menjelaskan Kurma Foundation itu apa, seperti apa yang ada di X banner yang sengaja mereka pasangan di depan Paseban.

"Kurma memang buah, tapi bagi kami kurma ini singkatan Syukur Ramadan Untuk Sesama. Karena kurma juga familiar dan mudah diingat oleh masyarakat," kata Andhika Bayu Prastya, salah seorang diantara mereka. Kumpulan anak mudaa Bondowoso ini terlahir tahun 2011. Ide munculnya komunitas yang bertegak dibidang pendidikan,kesehatan,pemberdayaan masyarakat serta kesejahteraan sosial juga tidak ada rencana sama sekali.

Inspiransi agar Tak Melupakan Kota Kelahirannya


Sebab saat bulan puasa tiba, anak muda Bondowoso yang kulih diluar kota banyak yang pulang ke Bondowoso dan mengadakan reuni kecil-kecilan atau sekedar kumpul biasa. Rutitas setiap tahun seperti itu, kata Andhika, munculah ide mengadakan kegiatan positif jadi kumpul-kumpul ada pemanfaatnya untuk orang lain. "Jadi Kurma ini kumpul anak muda Bondowoso yang berpisah karena kuliah di luar kota, ya ada yang di Jember, Surabaya, Malang, Jogjakarta, Bogor, hingga Bandung tambahnya.

Tahun pertama dan kedua hanya fokus ke sosial saja, yakni pemberian sembako ke warga miskin, serta membantu kebutuhan anak yatim di panti asuhan dan pompes. Sering blusukan ke kampung-kampung hingga pelosok pedesaan, satu persatu anggota Kurma yang ada mulai terinspirasi bahwa namanya membantu tidak harus memnberi materi saja. masa depan negara ini ada di anak-anak," ucap alumnus Fisip Unej ini.

Terlebih lagi masalah pendidikan di Bondowoso juga tidak sama, masih banyak pola pikir seperti pelajar di kota atau sekolah ternama. Mereka, kata andhika, sekolah itu hanya untuk dapat pekerjaan yang lebih enak. Sehingga Kurma pun mulai menuju sekolah-sekolah dengan kegiatan yang menyenangkan tapi menginspirasi mereka untuk belajar dan meraih cita-citanya yang selama ini hanya ada masa kecilnya.

Mulai merangkak ke dunia pendidikan, juga berlanjut memperhatikan kesehatan masyarakat dan bagaimana mereka lebih mandiri dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Lantas bagaimana sisi pendanaan setiap mengadakan acara di bulan Ramadhan, Andhika pun menjawab awalnya ya swadaya kawan-kawan.

Selanjutnya ada uang kas yang dikumpulkan untuk survei lokasi dan memberi bantuan. Sering mengadakan kegiatan sosial dan sering upload foto kegiatan lewat medsos, kata Andhika, memantik perhatian orang untuk menjadi donatur. "Dari teman ajak teman banyak yang kumpul dan banyak pula yang upload ke medsos, dari sana makin mudah pengalangan donatur," katanya.

Kini anggota Kurma yang dulu berstatus mahasiswa, kini sudah kerja. Dia berharap adanya kegiatan kurma, mampu mengispirasi anak muda Bondowoso yang sukses diluar kota tidak lupa ke kota kelahirannya Bondowoso. (wah)


Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 10 Juni 2016
Ditulis oleh : (is)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar