Kamis, 09 Februari 2017

Dedikasi Baidhowi Terhadap Sepak Bola Bondowoso

Geliatkan Sepak Bola Agar Generasi Nuda Bebas Narkoba

 

SEPAK bola bisa mengguncang dunia, inilah ungkapan yang tepat bagaimana olahraga yang satu ini selalu jadi perhatian seluruh orang. Tak salah jika Baidhowi Mendedikasikan hidupnya untuk sepak bola. Menarikinya, tujuannya untuk memutus mata rantai narkoba di generasi muda.(DWI SISWANTO)

MENCARI kediaman Baidhowi di Blindungan sekitar Pasaar Induk, cukup mudah. Tinggal menanyakan warga sekitar nama Baidhowi sepak bola banyak yang tahu. "Rumah bai ada di gang musala, masuk dikit nanti ada rumah warna kuning," kata salah seorang warga kepada Jawa Pos Radar Ijen.


Dari deretan hiasan yang menghiasi dinding ruang tamu di rumah Baidhowi, ada tiga hiasan dinding yang membuat dia terkesan. Yakni tiga medali yang diberi pegura khusus.
"Lha sepanjang sejarah berkarir di sepak bola, ini yang paling tinggi prestasinya," ucapnya.

Tiga medali itu adalah medali perak sebagai runner up Liga Mahasiswa di Malaysia mewakili Indonesia tahun 1992, medali perak runner up Liga Mahasiswa skalu nasional tahun 1995 di Medan dan medali emas sebagai juara nasional Liga Mahasiswa 1992. Nama Bali di dunia sepak bola Bondowoso cukup kandang. Dia pernah membela Persebo Bondowoso pada 1982 hingga, bahkan hingga terjun ke Bentoel Galatama 1990.
Tim-tim yang turun di Galamata adalah tim profesional dan bergengdi kala itu. Sementara untuk nama persebaya, Persema, Persija, Persis Solo, PSM Makasar termasuk Persebo dan Persib adalah tim perserikatan atau liga amatir yang pembiayaan timnya dari daerah masing-masing.

Gantung Sepatu Pada Usia Muda

Namun dalam sejarah karir sepak bola, pria kelahiran Bondowoso 13 November 1968 ini harus gantung sepatu pada usia 27 tahun. Tepatnya pada 1995 lalu. "Saat liga mahasiswa jadi runner up di Medan, cidera engkel  parah," ungkap Alumnus Sekolah Guru Olahraga (SGO) Proboliggo tersebut.

Tidak jadi pemain sepak bola, bagi bai muda bukan akhir dari segalanya terhadap sepak bola. Dia pun di minta menangani Persebo Junior di Piala Suratin tahun 1998 dan berlanjut melatih sepak bola di Universitas Muhammadiyah Jember di tahun 2000-an.

Saat bercerita karirnya, guru PNS ini masih ingat betul bagaimana anak-anak Bondowoso punya cita-cita tinggi masuk skuat Persebo.
"Rumah saya asalnya di Arak-arak Wringin, kalau latihan di Persebo naik angkot dari mesin diesel," ungkapnya.

Berstatus sebagai PNS guru, Bai mau tidak mau harus mengabdi kepada Bondowoso. Meski, punya penghasilan tetap sebagai guru, Bai tetap tidak mau meninggalkan sepak bola Bondowoso. Dia pun sering di tunjuk sebagai pelatih untuk usia muda di persepak bolaan Bondowoso. Pelatih Porprov, Akademi Persebo, hingga kini Persebo Junior yang menuju Piala Suratin pada Agustus besok.

Kegemaran Bai mendidik pesepak bola muda di Bondowoso tersebut karena punya keyakinan bahwa nama Bondowoso bisa terkenal dan membanggakan lewat bola. "Dulu saat Liga Mahasiswa atau Galamata sedikit yang tahu Bondowoso. Bahkan, orang Surabaya puntak tahu Bondowoso dan dikira sama dengan Situbondo," ungkapnya. Menurut Bai olahraga sepak bola ada olahraga masyarakat hingga di belahan dunia. Tak salah Negaria kecil bisa terkenal lewat sepak bola, bukan tidak mungkin nama Bondowoso bisa mendua gara-gara bola.

Tak hanya itu saja, harapan besar terhadap sepak bola di usia muda bissa menumbuhkan rasa cinta terhadap Bondowoso. Tak kalah penting, kata Bai, berkat sepak bola bisa memutus mata rantai narkoba di generasimuda. "Rasa resah dengan peredaran narkoba yang membuat masa depan anak muda seram," katanya.

Jika sepak bola bergeliat, kata Bai, dsetidaknya mulai dari anak kecil, remaja sehingga dewasa akan terasa kesibukan berolahraga. "Kalau setiap sore latihan bola, malm ya cepet dan tidur. Tidak ada nongkrong sampai larut malam hingga melakukan hal negatif," jelasnya.

Hingga usia Bai 46 tahun saja, dia tetap turun menjadi pemain di Bina Grujugan yang berlaga di Liga Bondowoso Divisi I. Tiga gol pun mampu dilesahkan oleh kaki kanannya lewat tendangan bebas, "Maksud saya turun di kompetisi internal ini, agar memacu pesepak bola muda. Yang tua saja bisa terus bermain bola masak yang muda kalah," katanya.

Dia berpesan apapun kesenagan baik di sepa bola atau lainnya yang bersifat positif, jika konsen di bidang tersebut akan mendapatkan timbal baliknya. "Kalau habi itu disenangi dan disukai, pasti bisa menghasilkan uang," katanya. Bai pun juga meniti karir bisnis konveksi, tapi berawal dari berjualan sepatu sepak bola yang dulu beli sepatun bola harus ke Jember.

Bai pun masih ingat pesebak bola dulu sangat mengenaskan untuk urusan sepak bola, karena mereka harus jauh-jauh beli sepatu di Jember. Bahkan, tak semua punya sepatu bola. Sehingga setiap dia menjadi pelatih, melihat anak didiknya sepatu rusak dan aus, tak jarang sepatu di tokonya diambil untuk anak didiknya itu. (wah)


Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 21 Juli 2016


Disalin kembali oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar