Selasa, 07 Februari 2017

Dedikasi Ade Suhendar Keliling Daerah Mengembangkan Bio Gas

Bio Gas Itu Murah dan Mudah,Bisa Kurang Rp 2 Juta

TEKNOLOGI bio gas sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia.Di Bondowoso pun juga banyak titik-titik pengembangan biogas.Di antara pembangunan bio gas tersebut ada Ade Suhendar yang membangun dan mentrasformasikan ilmunya,jauh-jauh dari Bandung untuk Bondowoso.

WAWAN DWI SISWANTO 

SENYUM dan sapa sudah terlihat di Wajah Ade Suhendar saat kunjungan Dinas pengairan Bondowoso di pilot project pembangunan bio gas Gerakan Masyarakat peduli Daerah aliran sungai dan irigasi(Gema Plidasi)di Maesan Beberapa waktu lalu.saat ada pertanyaan bagaimana mekanisme dari kotoran ternak menjadi bio gas,dia lah yang menjelaskan semua itu.hingga dia menunjukkan meteran sederhana ukuran gas dari kotoran ternak itu yang bisa menghasilkan api untuk kompor rumah tangga.Tak sedikit orang bertanya ade itu siapa dan dari mana.Nyatanya pria berbadan kurus dari mana.Nyatanya pria berbadan kurus dan memiliki jenggot tipis itu bukan orang Bondowoso melainkan Bandung."Saya dari Bandung,tapi lahirnya dan besar di Sumedang,Jawa barat,"ucapnya.Ade yang datang ke Maesan untuk membangun biogas plus menelorkan ilmunya ke masyarakat setempat,bukan pertama kali.Ya sebelumnya yakni 2012,dia bersama tim biogas dari Bandung yang berjumlah enam orang pernah dimintai oleh Pemda Bondowoso untuk membangun sejumlah titik bio gas yang tersebar di beberapa kecamatan.Selanjutnya,pada 2015 dia beserta satu tim juga menyelesaikan program biogas di Balai Lingkungan Hidup(BLH)Bondowoso.



Biogas Sangat Prospek dan Ekonomis


"Kebetulan saat itu saya buat lokasi usaha tahu sumedang di Tapen,dihubungi dan dimintai tolong untuk ikut membangun bio gas di Maesan.Karena ada masalah kotoran hewan yang di buang dalam ke saluran irigasi dan mencemari air,"katanya.Kedatangan Ade beserta timnya di tahun 2012 ke Bondowoso,bisa jadi karena melihat sepak terjangnya membangun biogas di sejumlah daerah."Kalau Jawa tengah itu sering,mungkin dari sana direkuitmen jadi tim biogas Bondowoso,'paparnya.Awal di Bondowoso dia membangun bio gas di sejumlah kecamatan yang belum tergarap.Diantara pernah kr Tegal Ampel,Sumber Wringn,dan Prajeken.Keberhasilan ade beserta timnnya membangun dan mendidik warga setempat untuk mengolah kotoran ternak jadi lebih bernilai,Kemudian BLH Bondowoso tahun 2015 mulai mengambil jasa mereka untuk membangun bio gas lagi di Republik kopi ini.Menurut Ade,Pembangunan bio gas dari kotoran ternak di Bondowoso sangat prospek dan mengurangi beban pengeluaran warga plus tidak mencemari lingkungan.Terlebih lagi Bondowoso punya potensi dengan jumlah sapi yang banyak dan hampir setiap kepala keluarga di desa punya hewan ternak besar ini.Dari satu titik ke titik lain membangun bio gas serta memberikan ilmunya,hanya satu yang disayangkan Ade terhadap bio gas di Bondowoso."kurang disiplin masalah waktu memasukkan kotoran hewan saja,"katanya.Dia Mencontohkan adalah setelah kotoran hewan yang menumpuk di kandang itu di bersihkan tidak langsung di masukkan ke penampungan bio gas."Akhirnya kering kotorannya.Jika kotoran tidak langsung dimasukan juga mencemari lingkungan,baunya juga tak sedap juga tak sedap juga mengganggu pemandangan,"tambahnya.Bagi dia bio gas bukan teknologi yang awan bagi orang Indonesia dan sudah jadi hal yang umum dan mudah dilakukan."Dari TV hingga internet pun banyak mengajarkan bagaimana membuat bio gas,"katanya.Biaya untuk membuat bio gas pun mulai dari Rp 10 juta hingga 2 juta. Bahkan jika membuat sendiri dari bahan sederhana dari plastik cor-coran tak sampai Rp 2 juta. Ade mengaku mudah membuat bio gas, juga berdasarkan pengalamannya di Bandung yang membuat bio gas dari kotoran rumah tangga. "Di rumah saya kotoran sayuran rumah tangga itu banyak, akhirnya buat bio gas belajar dari siaran televisi bisa," ungkapnya. Berangkat dari pengalaman bahwa bio gas dapat mengurangi sampah serta meringankan beban pengeluaran sehari-hari keluarga. Ade pun mulai mendedikasikan ilmunya tersebut ke orang lain, termasuk untuk Bondowoso. "kalau mau belajar ke Bandung, silahkan gratis," (wah)





Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen 15 Juli 2016
Ditulis oleh : (AF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar