Selasa, 07 Februari 2017

Action Para Duta Tari Bondowoso

Konsisten Kembangkan Seni Khas Bondowoso

Kesenian adalah salah satu ciri khas suatu daerah. Begitu juga di Bondowoso. Kota yang baru saja terkenal dengan sebutan Republik Kopi ini juga memiliki budaya tari khas sendiri. Salah satu yang konsen mengembangkan tari asli Bondowoso adalah para eks duta tari Bondowoso.SHOLIKHUL HUDA


Sore itu, rombongan  penari dengan pakaian merah di dominasi oranye menampilkan sebuah tari. Mereka membawakan Tari Topeng Kona Blimbing. Dengan piawai, para penari yang berjumlah tujuh orang itu membawakan tarian. Gerakan mereka begitu luwes.
Beriringan dengan mereka, ada satu grup lagi yang pakaiannya agak mirip, namun ada balutan hitam dan diatas kepalanya memakai odeng. Untuk grup yang pertama, tutup kepalanya memakai aksesoris seperti mahkota.
Grup kedua yang jumlahnya sama-sama tujuh orang penari ini membawakan tari bertajuk tari singo (kolaborasi). Penampilan mereka juga tak kalah dengan grup yang pertama. Gerakannya begitu luwes.
Merekalah para eks duta tari Bondowoso tahun 2013 dan 2015. Selama ini mereka konsisten mengembangkan tarian asli Bondowoso. Selain dua tari itu, masih ada tari asli Bondowoso lainnya. Yakni tari muang sangkal (tolak balak), rampak pandaluan dan tari ojung. Tentunya mereka juga menguasai berbagai jenis tari tersebut.
Putri Asmi Riyanto, salah seorang penari menuturkan, para pegiat seni tari itu adalah anak-anak yang didalam darahnya mengalir jiwa seni yang sangat deras. Sehingga menari menjadi panggilan jiwa. Karena dasar itu, gerakan yang dibawakan selalu dijiwai."Sehingga gerakannya luwes," tutur penari yang konsisten memakai jilbab tersebut.

Perlu Ada Muatan Lokal Seni Tari

Putri adalah salah satu duta tari yang selama ini mendalami seni tari sanggar tari Pensi Bondowoso. Dijelaskan, para pegiat seni yang membawakan seni tari itu selama ini berasal dari beberapa sanggar. Selain sanggar tari pensi (Kota Kulon), masih ada sanggar tari gema buwana (Prajekan) dan sanggar tari mutiara Kantor Disparpor).
Hanya saja, mereka terikat dalam ikatan Duta Tari Bondowoso. Munaryadi, Kasi Budaya Tradisi dan Seni Pertunjukan Disparporahub Bondowoso menuturkan, saat ini ada 23 penari yang konsisten. Sebelumnyaa ada 33 penari. Tiga penari berasal dari Duta Tari Bondowoso 2013 dan 30 penari lainnya berasal dari duta tari Bondowoso 2015."Ada penyusutan karena beberapa diantaranya kuliah di luar daerah, namun jiwa tarinya masih erat, sebab ada yang sanggup kembali ketika di butuhkan,"akunya.
Adanya perekrutan besar-besaran pada ajang duta tari Bondowoso 2015 ini karena ada misi pelestarian tari khas Bondowoso. Dari seluruh tari yang ada, salah satu yang iconic adalah tari topeng kona blimbing. Sebab tari yang peragaannya harus membawa topeng kona itu memiliki sejarah. Tari itu sudah ada sejak jalan dahulu."Baru sekitar tahun 1970-an, dikembangkan kembali dan sampai sekarang konsisten dikembangkan,"jelasnya.
Namun selain wajib menguasai tari Topeng Kona Blimbing, para penari Bondowoso ini juga wajib mengetahui tari lainnya. Seperti tari ojung, tari singo (kolaborasi), tolak balak(muang sangkal) dan rampak pendalungan.
Orang yang memiliki panggilan akrab Munar ini menambahkan, mengenai tari sebagai kesenian asli Bondowoso, pihaknya optimis akan terus hidup. Sebab banyak embrio calon penari yang memiliki jiwa seni tari. Seperti halnya tiga anak Bondowoso, ada yang melanjutkan kuliah di bidang kesenian tari."Ini sebuah harapan cerah,"jelasnya.
Hanya saja, selama ini kata dia, masih dibutuhkan sebuah inovasi untuk mempopulerkan seni tari tradisional ini kepada para pelajar. Sebab belum ada formulasi ajaran dalam kurikulum pendidikan di Bondowoso yang memasukkan sejarah asli Bondowoso. Sehingga dia menganggap wajar ketika ada sekolah yang beberapa waktu lalu memasang ikon tari lain di sekolahnya."Salah satu solusinya harus ada kurikulum, seperti muatan lokal," tegas orang yang mendalami seni tari sejak duduk di bangku sekolah dasar ini.
Untuk membuat kurikulum, salah satu langkah harus ada dewan kesenian ini meuruskan muatan lokal yang selanjutnya dikirim ke sekolah di seluruh Bondowoso.(wah)

Sumber: Jawa Pos Radar Ijen 16 Juli 2016
disalin oleh: (JSR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar