Pulang ke Bondowoso Karena Petani Kopi Itu Keren
YUSRIADI mungkin satu diantara para petani kopi rakyat Bondowoso yang melambungkan cita rasa Java Ijen Raung menjadi kopi yang diminati berbagai coffe shop hingga keluar negeri. Kini dia tak hanya berkonsentrasi di kebun kopinya, tapi juga ingin balas budi dengan membagi ilmu penyajian kopi agar terasa nikmat.(WAWAN BWI SISWANTO)
COFFEE morning bersama Bupati Bondowoso Amin Said Husni beberapa waktu lalu menarik simpati penggiat kopi termasuk para petani. Dengan label republik kopi, diskusi-diskusi mengenai kopi menjadi sajian hangat.
Usai acara tersebut salah seorang petani kopi yang bernama Yusriadi asal Sukosari tak langsung pulang begitu saja. Namun, dia menuju tempat ngopi di daerah Jl Santawi. Peralatan kopinya pun dikeluarkan begitu pula dengan biji kopinya. Kedatangan Yusriadi ke kedai kopi tersebut bukan hanya untuyk mencari lokasi ngopi yang nikmat dan mantap, melainkan edukasi bagaimana penyajian kopi yang menggugah selera.
Air yang telah mendidih itu dimasukan ke teko khusus yang terbuat dari stainless steel dan berlobang kecil." Penyajian kopi ini setelah mendidih jangan langsung diseduh, diamkan dulu sebentar sekitar sekitar 2-3 menit. Karena menyeduh kopi ini airnya tidak mendidih 100 derajat celcius tapi 85 derajat," ucap Yusriadi kepada frans pemilik kedai kopi itu.
Dengan teko khusus tersebut, air dikeluarkan secara perlahan-perlahan dari pinggir cangkir hingga ke tengah.
Pemasaran Itu Intinya Berani
"Kalau air itu langsung dimasukkan ke cangkir, aroma kopi ini hilang," ucapnya. Dia pun juga menjelaskan kepada pemilik kedai kopi dimana tempat untuk membeli peralatan penyajian kopi tersebut.Yusriadi sendiri selain petani kopi sekaligus barista dari Bondowoso yang malang melintang hingga membuka coffee shop di jakarta dan kembali lagi ke Bondowoso. Namun, siapa sangka awal kali dia anggap remeh kopi dari tanah Bondowoso ini."Tak tertarik ke kopi dulu, meski punya kebun kopi," ungkapnya.
Pria berambut cepak tersebut mengenal tanaman kopi dari kecil."Bapak saya petani kopi di Sukosari, sejak kecil sudah kenal tanaman kopi termasuk prosesnya," Katanya. Yusriadi kecilo dan mulai beranjak dewasa dia justru lebih memilih mengembangkan tanaman holtikultura dari pada kopi yang sejak kecil dia kenal."Lebih untung jadi petani sayur dari pada kopi dulu,"katanya.
Selain lebih untung komoditas holtikultura, alasan utama sebenarnya Yusriadi tak menggarap kebuin kopinya, karena jadi petani kopi itu tidak keren."Anak-anak muda di Sumberwringin, dan Sukosari jadi petani kopi tidak keren. Karena di sana rata-rata petani kopi. Kopi lagi kopi lagi,"ungkapnya.
Konsen di bidang tanaman holtikultura, otomatis Yusriadi bermitra dengan pedagang besar di kota-kota besar termasuk Jakarta. Sering bolak-balik ke Ibu Kota untuk suplai sayur-mayurnya. Dia melihat bagitu germelapnya coffee shop di daerah Kemang, jakarta. Puluhan cafe yang menyedikan jenis kopi unggulan beragam daerah tersebut Yus selalu menyempatkan waktu ke sana saat di Jakarta dan ada kopi dari Bondowoso bernama Java Ijen yang paling diminati.
Kata yang paling diingat dan terinspirasi Yusriadi kembali ke Bondowoso mengembangkan kebun kopinya, karena jadi petani kopi itu keren."Saya masih ingat perkataan barista coffee shop di Kemang, keren lho jadi petani kopi, mending balik lagi saja,"ucap Yusriadi yang menirukan ucapan pembuat kopi di Kemang itu.
Saat itu dia merenung dan ngopi dari pukul 8 pagi dan 12 malam di coffee shop. Dan tahun 2008 tersebut Yusriadi memutuskan pulang ke Bondowoso untuk mengembangkan kebun kopi miliknya yang dikelola puluhan tahun oleh orang lain. Yus yang tak pernah mengetahui detail seluk beluk perkopian, mulai belajar ke Puslit Kakao jember dan coffee shop di Jakarta.
Berani mengelolah sendiri kebun kopinya 2009 hingga 2011, Yusriadi mulai berani membawa kopinya ke Jakarta. Membawa biji kopi arabika ose, nyata disambut baik rekannya pemilik coffee shop di Kemang."Perkiogram biji kopi ose dihargai Rp 55 ribu, sedangkan di Bondowoso laku nhanya Rp 17 ribu," ungkapnya.
Mendapatkan harga yang tinggi tersebut menjadi pelecut semangat Yusriadi mengembangkan kopi. Dia mengaku masalah kopi Bondowoso ini murah karena tidak ada pemilihan kopi buah merah dan hijau serta proses menjemuran tidak diperhatikan, contohnya adalah jemur kopi di aspal.
Dia pun juga pernah merasakan hal pahit memasarkan kopi di Jakarta, lantaran memakai kopi rakyat."Ada yang tanya ini kopi apa, saya bilang kopi rakyat Bondowoso. Ternyata ditolak, dan waktu itu tidak tahu nama kopi ada patennya," imbuhnya. Dia bersama-sama bersinergi dengan Apeki Bondowoso lainnya, ide nama Java Ijen Raung itu muncul."Java Ijen itu punya PTPN, langsung saja ide Java Ijen Raung,"ugkapnya. (wah)
Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 13 juli 2016.
dituliskan oleh: (JSR)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar