Selasa, 14 Februari 2017

Ingin Jadi Guru Madrasah


Menjadi seorang guru sudah menjadi cita-cita Siti Shofyah, perempuan yang kini sedang menempuh kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jember ini. Dia sedang berusaha mewujudkan cita-citanya dengan mengambil studi jurusan pendidikan guru madrasah ibtidaiyah.

 

Keluarga Beri Dukungan Penuh

Menjadi seorang guru madrasah, diakui sofi, sudah menjadi impiannya sejak kecil Wajar saja, karena masa kecilnya dihabiskan belajar di madrasah ibtidaiyah.

Perempuan yang hobby menulis ini menilai, menjadi seorang guru madrasah ibtidiyah adalah pekerjaan yang menyenangkan. Disamping bisa mendidik, guru ibtidiyah juga tidak jauh dari ranah pengabdian."Guru madrasah itu keren,"tuturnya.

Jasanya besar, meski tidak mendapat tunjangan sebesar jasanya."Menjadi guru madrasah mengajarkan banyak hal tentang keikhlasan,"katanya.

Selain belajar akan keikhlasan, menjadi guru madrasah juga mengajari kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi sikap anak didik nantinya. Yang tentunya ada anak-anak yang sulit mengerti dan memahami pelajaran.

Hal tersebut dirasa wajar. Karena memang madrasah merupakan awal pendidikan bagi anak."Wajar saja, karena anak anak akan mendapatkan pelajaran pertama mereka di madrasah," terang perampuan kelahiran 10 September 1995 ini.

Menjadi seorang guru memang memiliki tantangan tersendiri. Sofi mengakui, kesabaran menjadi seorang guru benar-benar diuji. Selain memberikan pelajaran, menjadi seorang guru juga harus bisa menanamkan karakter terhadap anak didiknya.

Sehingga nantinya, akan menjadi seorang guru yang berbeda dari guru lainnya. Yang tidak hanya memberikan pelajaran, tapi juga menjadi guru yang bisa memotivasi anak didik untuk bisa lebih baik.

Memberikan wadah anak didik untuk bercerita, tentang permasalahan pelajaran yang dihadapi dan memberikan dukungan untuk terus belajar. Hal tersebut harus dilakukan oleh seorang guru madrasah.

Buat anak didik sedekat mungking dengan guru. Memberikan kenyamanan dalam pembelajaran juga menjadi faktor pendukung."Sehingga mereka tidak sungkan menceritakan masalah pelajaran yang mereka hadapi,"kata perempuan asli Lumajang tersebut.

Melakukan pendekatan-pendekatan terhadap anak didik. Sehingga nantinya akan mudah memberikan solusi dan motivasi untuk siswa.

 Dengan begitu, anak anak didik nantinya bisa lebih akrab dan bahkan bisa menjadi seorang sahabat ."Kalau guru dekat dengan siswa, penanganannya akan menjadi mudah,"tutur anak dari pasangan Supangat dan Jumi'ati tersebut.

Keinginan untuk menjadi seorang pendidik, diakuinya, merupakan dorongan dari diri sendiri."Seperti ada dorongan tersendiri untuk menjadi seorang guru,"jelasnya.

Apalagi keingingin tersebut mendapatkan dukungan penuh dari pihak keluarga."Dukungan besar datang dari bapak,"akunya. Sehingga saat ini Sofi benar-benar semangat untuk segera menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang guru. (mar/ras)

Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 1 Juni 2016
disalin oleh: (JSR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar